Skip to main content

Posts

Lagu Favorit

Bila Engkau tak besertaku Kutak mau berjalan Kuperlu Tuhan pimpin langkahku  Dengan kasih karuniaMu Pimpin langkahku setiap waktu Berjalan dalam rohMu Nyatakan Tuhan kemuliaanMu Dan berjalanlah denganku -----‐-------------------‐------------------------- Lagu ini senantiasa jadi berkat bagi hidupku. Menguatkan aku disaat sulit. Meneguhkan hatiku saat aku bingung mengambil keputusan. Mendorongku untuk percaya bahwa Tuhan akan ada seperti apapun jalan didepan.  Malam ini aku mendengarnya lagi di akhir khotbah ibu pdt. Debby Bajzir. Lagu ini sangat istimewa karena sebagai anak tunggal dengan orang tua yang bolak balik sakit dan opname di rumah sakit, lagu ini memberikan jaminan bahwa aku tak pernah benar- benar sendiri. Usai dengar khotbah, aku masuk ke kamar dan melihat dua anakku tidur pulas.; aku melihat penyertaan Tuhan disana. Melihat laptop yang seharian kupakai mempersiapkan bahan kuliah di meja, aku juga melihat kebaikan Tuhan disana. Siapalah aku ini ? Apa yang sudah kuperbuat se
Recent posts

Dunia yang Bising

 Dunia ini memang sudah bising. Semua seperti berlomba bersuara. Bahkan dalam hening pun, otak masih saja bising dengan teriakan-teriakan yang gaduh menuntut untuk didengar duluan. Aku ga suka dunia yang bising. Keheningan sejak dulu adalah atmosfir yang kucintai. Aku bisa menikmatinya dengan hanya mendengarkan suara nafasku saja. Namun aku merasakan semakin dewasa, aku mulai kehilangan keistimewaan menikmati keheningan. Bahkan dalam diam pun, aku bisa melakukan percakapan tak putus. Dari satu cerita ke cerita lainnya, otakku saling melempar tanya, mencari jawaban dan kesemua cerita itu tidak pernah punya ujung karena sekali lagi kukatakan, aku tidak punya kendali membungkam otakku untuk diam. Keheningan menjadi mahal dan istimewa. Dia serupa seperti Tuhan; ada disana tapi tak bisa disentuh. Suara-suara gila yang ingin didengar ini telah merusak hening yang kusuka. Kenapa dunia ini menjadi bising. Kenapa semua harus bicara bersamaan. Kenapa diam pun ikut berbicara bising kalau diam sed

Gila Nonton Doraemon

 Setelah berkali-kali gagal login di komputer, maka aku masuk pakai handphone. Entah apa masalahnya sampai aku ga bisa masuk ke blog ini pakai komputer. Nah, hari ini aku mau bercerita sedikit tentang kekesalan hatiku. Kesal karena anakku suka sekali nonton Doraemon. Mulai dari yang ada subtitle bahasa Indonesianya, film yang english native hingga Japan nativenya. Semua dibabat. Hebatnya lagi, si sulung bahkan memakai setelan subtitle otomatis yang disediakan di youtube. Gila ya...Meski terjemahannya terjun habis kebanyakan tidak nyambung dengan adegan yang sedang berjalan, anakku tetap aja melotot nonton sambil mulut komat-kamit membaca cepat teks terjemahan otomatis tadi. Karena dia masih kelas 1 SD, maka sesungguhnya aku mengapresiasi siasatnya tadi untuk tetap bisa menikmati kartun kesayangannya itu. Yah, anggap aja memang latihan baca. Balik soal kekesalan hatiku adalah dia betah menonton dari pagi sampai malam. Dan malam selalu diwarnai drama cemberut karena kuminta matiin tv dan

Bulan Baru Profesi Baru

Memulai menulis lagi seperti mengambil pisau berkarat yang sudah lama dibiarkan dalam kolong lemari. Jariku menekan tuts komputer dengan cepat tapi tidak secepat miliaran ide yang saling berebut ingin dikeluarkan. Begitu banyak yang ingin ditulis. Betapa banyak yang ingin dibedah satu persatu. Jadi izinkan aku memulainya dengan kemampuan seorang ibu-ibu yang sudah lama hanya berkutat di dapur tanpa pernah melihat dunia luar. Itulah aku saat ini..Setidaknya seminggu sebelum aku menemukan dunia lain yang somehow disodorkan kepadaku di akhir bulan September 2021. Untuk itu aku berterima kasih atas  kesempatan yang diberikan oleh orang yang mengenal siapa aku, buat mereka yang mengenal aku dari orang lain, dan buat mereka yang memang memberikan kesempatan ini padaku secara cuma-cuma. Apapun alasannya, aku tahu ini hadiah terbaik yang bisa kuperoleh di usia 40-an ini.  Tuhan tentu saja yang mengontrol semuannya. Dengan kepercayaan yang tetap kuupayakan seperti anak kecil; aku percaya ini ad

Janji yang Ditepati

  Jumat lalu (30/10), suamiku lulus CPNS. Perasaan senang, haru bercampur di hati. Menengok ke belakang, kami memang patut mengucapkan syukur karena perjalanan CPNS dia yang tidak mudah. Sejak daftar di bulan Nov 2019, berkas suamiku ditolak karena dinilai tidak memenuhi syarat kompetensi bidang sesuai ijazah. Padahal sebenarnya sama sih hanya saja, karena dia lulusan kampus Belanda, maka tidak ditulis eksplisit di lembar ijazah dengan kompetensi yang disyaratkan. Aku nanya ke dia, apakah itu bisa diperjelas dan ternyata panitia seleksi memberi waktu seminggu untuk melakukan sanggah atas ketidaklulusan. Dan kami memakai waktu sanggah itu. Singkat cerita, dia kemudian dinyatakan lolos seleksi berkas. Wah, kami senang sekali sampai pakai berurai air mata. Terima kasih Tuhan. Kami memang sejak awal udah mendoakan hal ini dan berharap penuh kalau suamiku lulus. Jadi waktu awal ditolak, kok ya rasanya langsung nggak enak banget. Kayak nggak ada harapan. Untunglah kami sempatkan buat sangg

Belajar Jadi Orang Tua

 Anakku yang sulung kini berusia 6 tahun. Sudah TK B dan mulai bisa mengeja kata-kata. Ada rasa haru, bangga, sedikit kuatir dalam membesarkannya. Namun rasa terbesarnya ialah kesadaran penuh bahwa aku kini bukan si lajang lagi tapi sudah jadi ibu. Menjadi orang tua seperti orang tuaku dulu. Suatu peran yang ternyata tidak semudah dan seenak kubayangkan. Ian, anak sulungku itu meniru habis sifat bapaknya yang berdarah Jawa Solo. Sudah dapat dibayangkan benturan yang kuperoleh dalam membesarkannya dalam lingkungan Batak Toba dimana orang-orangnya keras dan terus terang dalam menyampaikan sikap dan pikiran mereka.  Aku jujur harus kerja ekstra keras untuk mendidiknya jadi pribadi yang mengambil sisi yang positif saja dari latar belakangku dan bapaknya. Jadilah anak itu menjadi ruang percobaanku; yang sering membuatku menangis malam-malam ketika aku sadar aku melakukan kesalahan namun yang kadang membuatku berani tepuk dada, karena Ian menjadi gen yang lebih dari anak-anak sekitarnya. Itu

Mari kita Bercerita Lagi

Beberapa hari ini Tuhan mengingatkanku kembali untuk mengisi blog ini. Dulu, blog ini aku isi dengan cerita keseharianku sebagai jurnalis, anak tunggal, perempuan batak lajang yang jumplitan menemukan teman hidup. Isinya jadi macam-macam. Berwarnalah menurutku. Blog ini juga merupakan teman curhat yang setia menampung apa saja; yang biasanya lebih lugas untuk kutuliskan daripada kuceritakan ke orang lain, Yah, namanya juga benda mati. Sesukaku menulis tanpa takut diprotes. Hal yang kuyakini sebagai sumber nikmat melepaskan galauku pada masa lajang. Dan setelah aku sekolah lagi ke kota Brighton, Inggris di musim semi tahun 2011, aku tidak lagi rajin mengupdate blog ini, Kesibukan mahasiswa baru di negeri perantauan membuat hari-hariku full tenggelam dalam buku dan aktifitas kampus. Tamat di bulan September 2012, aku pun disibukkan dengan perencanaan pulang dan menikah yang kuadakan di pertengahan bulan Juli 2013. Dan and so on, and so on....bejibun peristiwa terjadi, dan terbengkalai to